Alon-alon Ora Kelakon

Saya agak takut membuka sosial media pagi-pagi. Mata belum sepenuhnya melek, tapi jempol sudah langsung membuka HP, lalu berhenti sebentar di situ. Rasanya seperti ada anxiety yang tiba-tiba menyambar ulu hati. Bukan, bukan karena ada pesan dari boss. Saya bisa dibilang adalah salah satu karyawan yang kontribusinya minim di pekerjaan. Yang saya takutkan lebih seram dari itu. Kabar teman pindah kantor, naik jabatan, buka usaha, beli rumah, lari sekian kilometer sebelum matahari muncul. Apalagi yang terakhir, itu salah satu rejeki yang dulu tidak pernah bisa saya syukuri, dan sekarang sudah tidak bisa saya capai. Semua orang seperti punya mesin penggerak sendiri. Saya? ya saya baru bangun, masih sibuk mencari motivasi dan menata muka supaya tidak berantakan dan hopeless seperti zombie.

Jakarta cocok buat itu. Kota ini mengajari orang supaya tidak keburu santai. Di stasiun, orang jalan cepat dan berebut masuk kereta. Di jalan, klakson menggema sepanjang hari, dan umpatan “anjing, ngentot!!!” sudah jadi teman sehari-hari pengendara motor. Di lift, pintu baru terbuka sedikit sudah ada yang menyelinap masuk tanpa menunggu yang keluar seperti sedang mengejar karir. Kalau janji jam sembilan, orang datang lewat dari itu lalu mengeluh macet. Ya, di sini cuma macet yang memang tidak bisa disembuhkan, seburu-buru apa pun kamu di kota ini.

Soal ini, film Warkop sudah mengcapturenya lebih bagus daripada yang lainnya. Raden Mas Ngabei Slamet menulis surat kepada bapaknya dalam “Gengsi Dong”. berikut kutipannya

“Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas. Sembah sujud puteramu, Slamet.”

Saya suka kalimat itu justru karena bagian “sembah sujud”-nya. Jakarta digambarkan sebagai tempat orang digilas, tapi suratnya tetap ditutup dengan tata krama. Masih njawani, kalau orang bilang.

Dan njawani itu juga yang menempel di saya lewat kalimat lain, alon-alon waton kelakon. Biasanya diterjemahkan “pelan-pelan asal terlaksana”. Terjemahannya benar, cuma nadanya hilang. Alon-alon bukan ajakan bermalas-malasan. Waton kelakon juga bukan alasan menyerahkan semuanya kepada nasib. Tetap ada yang dikerjakan, tetap ada tujuan. Hanya saja langkahnya tidak perlu dibuat seperti sedang dikejar Bank Plecit.

Masalahnya, di sini pepatah itu gampang sekali disalahpahami. Orang yang tidak buru-buru sering dibaca tidak serius, tidak punya semangat hidup, bahkan dicap pemalas. Kalender meeting di Teams yang kosong dianggap gejala kurang berguna. Orang bicara soal target lima tahun dengan suara tenang, padahal lima tahun itu lama sekali. Lihat saja tanaman cabai, lima tahun bisa tiga kali mati karena lupa disiram. Dan berbeda dengan tanaman cabai, saya bahkan tidak tahu besok mau mengerjakan apa.

Saya juga tidak terlalu pandai dan tidak terlalu ingin ikut-ikutan ambis dan kompetitif. Mungkin masa saya untuk itu sudah lewat dan saya Ada teori sendiri, “orang yang sekarang terlihat selow, biasanya pernah melewati masa capeknya.” Tapi perlu dibedakan ya, ini bukan karena tidak mau kerja keras. Kerja keras itu memang harus, apalagi kalau ada cicilan yang harus dibayar dan keluarga yang harus dinafkahi. Cuma saya tidak mau semua hari berubah jadi kompetisi seperti Indonesian Idol yang harus selalu tampak lebih baik, lebih berhasil, lebih bersinar dari kontestan lain, supaya juri memberi pujian. Bagi saya, lebih capek membuktikan bahwa kerjaan itu layak dilihat dan diapresiasi atasan daripada sekadar menyelesaikannya.

Makanya saya memilih hidup sakmadyane wae. Secukupnya saja. Tidak perlu dibikin kecil-kecil amat, tapi juga tidak semua keinginan harus diberi bahan bakar. Biar tidak kebanyakan kecewa. Karena kekecewaan kadang bukan datang dari hidup yang tidak adil, tapi dari ekspektasi kita sendiri yang ketinggian. Kita keburu percaya bahwa semua yang kita ekspektasikan memang mesti kita dapatkan.

Tentu prinsip ini (aelah) ada ongkosnya. Ada orang yang mungkin mengira saya kurang berani. Banyak kesempatan lewat karena saya memang tidak berani mencoba. Ada juga hari ketika saya sendiri baru sadar bahwa yang saya sebut alon-alon ternyata cuma malas mencoba. Yang begitu jangan dijadikan penyesalan. Yang sudah biarlah sudah. Kalau memang niatnya tidur, ya tidur saja.

Ongkos yang lain masih saya simpan di dompet. KTP saya masih Jogja, sampai sekarang belum saya ganti. Bukan karena saya punya pidato panjang soal neptu, trah, atau asal-usul. Alasannya dulu gampang saja. Saya masih berharap bisa mendaftar PNS di Jogja, cari penghasilan di sana, dan PNS daerah mewajibkan pendaftar ber-KTP daerah. Tapi seperti yang sudah-sudah, kesempatan itu lewat juga. Umur saya 35 sekarang, sudah tidak ada pendaftaran yang bisa saya kejar, dan sudah waktunya ganti KTP ke tempat tinggal sekarang.

Cuma akhirnya saya menemukan alasan yang lebih sentimentil. Kartu itu mungkin akan saya simpan saja. Paling enggak, saya punya satu barang di dompet yang tidak ikut tergesa-gesa menjadi warga Jakarta sepenuhnya.

Dan satu lagi, kalau tiba-tiba sedang ada debat di ICJ dan ada oknum yang bertanya, “KTP-mu ngendi?”. Ya, saya tinggal mengeluarkan senjata pamungkas saya, yaitu kartu itu.

Selesai.

Alon-alon, tapi ojo kakehan kelon.