Angan yang Datang Terlambat
Saya curiga, lelaki dewasa itu sebenarnya cuma bocah yang diberi fisik lebih besar dan rekening yang kadang ada isinya. Mainannya berubah nama dan bentuk saja. Mobil remote berganti menjadi mobil mahal beneran. Robot-robotan berganti menjadi Gundam Perfect Grade. Ada pula jam tangan yang harganya cukup untuk mentraktir satu RT makan bakso ting ting..
Saya sendiri kebagian jalur audio.
Dulu saya hobi menyolder amplifier bekas yang dibeli di toko audio dekat rumah. Bentuknya tidak selalu meyakinkan. Kadang bunyinya mendengung dulu sebelum musik keluar. Tapi dari situ saya pelan-pelan tahu ada kesenangan aneh ketika benda kecil itu akhirnya menyala dan membuat lagu terdengar lebih hidup.
Sekarang nama mainannya terdengar lebih sok dewasa: DAC, amplifier, IEM, earbud, FLAC, dan fafifu teknis lain yang membuat obrolan soal mendengarkan musik terdengar seperti rapat projekan yang dananya mau dimarkup. Padahal ujung-ujungnya cuma ingin mendengarkan lagu sambil bersantai dan tiduran. Bedanya, hobi yang dulu cuma bisa saya pegang, bongkar, lalu solder lagi, sekarang mulai bisa saya kejar sedikit-sedikit. Mirip jabatan di dunia kerja, bedanya ini masih menyenangkan.
Waktu pertama kerja, saya ingin sekali punya Yuin PK1 dan Chord Mojo. PK1 adalah earbud yang, kata orang-orang di luar sana, punya vokal intim, halus, dan bening. Katanya, penyanyi tidak lagi terasa tampil jauh di panggung, tetapi duduk di kursi depan kita.
Chord Mojo, di sisi lain, waktu itu berada di kelas barang yang hanya bisa saya masukkan ke keranjang belanja, lalu saya tatap seperti gebetan yang akhirnya menikah dengan orang lain. Saya tahu dia ada dan bisa dimiliki. Hanya bukan oleh saya yang waktu itu.
PK1 akhirnya terbeli juga, dengan cara yang sangat Indonesia: mencicil angan-angan. Saya beli, saya pakai, lalu kecewa sedikit. PK1 tidak jelek, dia cuma Kawasaki ZX6 yang disuruh menarik gerobak. DAC dan amplifier seadanya tidak sanggup mengangkatnya. Vokal memang keluar, tetapi tidak seperti janji orang-orang di forum. Yang terdengar lebih jelas justru penyesalan kecil dari hati, terutama setelah melihat isi kantong yang makin menipis.
PK1 tetap saya simpan di laci bersama kuitansi pembelian, charger nokia bekas dan sachet SIM card yang udah lama. Kadang dipakai, kadang cuma dipandangi sebagai penjaga angan. Dialah pengingat bahwa ada sesuatu yang bisa dimiliki, tetapi belum tentu bisa dinikmati sepenuhnya.
Hampir satu dekade kemudian, saya membulatkan tekad membeli salah satu wishlist kecil itu. Chord Mojo 2 akhirnya datang pada 16 Agustus 2026 pukul 22.45, tanpa gegap gempita atau seremoni apa pun. Seken, tentu saja.
Pada usia tertentu, barang seken bukan lagi lambang kekalahan. Dia adalah tanda bahwa kita sudah cukup dewasa untuk tidak perlu berpura-pura kaya demi barang baru. Yang penting masih sehat, masih menyala, tidak rusak karena terlalu keras disiksa pemilik lama, dan harganya tidak membuat istri atau saldo rekening mempertanyakan moralitas kita.
Akhirnya, setelah sekian lama, PK1 saya colokkan ke Mojo 2.
Di situ baru terasa kalau Vokalnya muncul tepat di depan saya. Intim dan Jernih. Seolah penyanyinya duduk di kursi seberang, memandang saya dengan senyum yang terlalu tenang untuk sebuah lagu bernuansa terima kasih kepada mantan presiden yang namanya begitu lekat dengan oligarki.
Saya ikut tersenyum.
Mojo 2 akhirnya punya tenaga cukup untuk mengangkat PK1. Kalau rakyat? Ya, tetap disuruh kuat-kuat mengangkat beban hidupnya sendiri. Bedanya, PK1 punya amplifier. Rakyat biasanya cuma punya janji-janji yang sudah basi.
Hari ini saya bertambah umur. Di luar sana, bendera merah putih dipasang di gang-gang sempit. Negara merayakan kemerdekaan. Di meja saya, Mojo 2 menyala ungu dan PK1 akhirnya berbunyi seperti yang dulu saya bayangkan.
Kemerdekaan saya kecil, seorang bocah dewasa yang akhirnya bisa membeli mainannya impiannya.
Tapi ya gitu, kecil bukan berarti tidak layak dirayakan.
MERDEKA!!