Summer Moved on

CD album Clubeighties Summer Moved On sebenarnya bukan barang langka seperti naskah asli Supersemar. Di luar sana mungkin masih ada yang menjualnya. Mungkin juga ada yang menyimpannya di laci, berdampingan dengan kuitansi lama, charger Nokia Windows Phone, dan kartu perdana Simpati yang nomornya sudah tidak bisa dihubungi.

Masalahnya. saya tidak pernah bertemu dengan orang yang menjualnya. Algoritma portal belanja online lebih suka mengarahkan saya ke barang-barang yang tidak ada hubungannya dengan pencarian. Setelah beberapa kali mencoba, saya menyerah.

Saya mencari Summer Moved On karena di dalamnya ada lagu-lagu yang, entah kenapa, seperti pernah ikut tinggal dalam hidup saya. Ada “Dari Hati”, ada “Cinta dan Luka”, dan beberapa lagu lain yang rasanya lebih paham riwayat perasaan saya ketimbang beberapa orang yang pernah menanyakan kabar hanya untuk berbasa-basi.

Lagu-lagu itu tidak membuat hidup jadi lebih baik. Kalau lagu bisa melakukan itu, mungkin sejak dulu saya sudah menjadi manusia bahagia dan tidak terlalu akrab dengan kata KALAH.

Tetapi, ada lagu yang menyimpan versi diri kita pada suatu masa. Saat diputar, ia seperti membuka pintu kamar lama. Sedikit pengap, barang-barangnya mungkin sudah tidak penting, tetapi kita masih tahu persis letak luka di dalamnya.

Saya sempat mencari album itu di Spotify. Tidak ada.
Saya cari di YouTube Music. Tidak ada juga.
Apple Music dan iTunes Store pun nihil. Rasanya seperti mencari keadilan di negara tercinta ini.

Saya memang agak picky. Kalau mau mengalah pada kualitas suara, lagu-lagu itu banyak tersebar di berbagai portal unduhan ilegal yang muncul dari hasil pencarian Google. Tapi mendengarkan lagu yang pernah begitu dekat dalam kualitas pecah-pecah terasa seperti bertemu teman lama lewat sambungan telepon yang putus-putus.

Aneh memang. Di zaman ketika orang bisa curhat kepada robot seperti kepada pasangan sendiri, saya malah tidak bisa menemukan album yang sudah lama ingin saya dengarkan.

Akhirnya, saya mengumpulkan niat untuk berburu CD-nya. Dengan kemampuan finansial yang pas-pasan, barang bekas tentu menjadi pilihan paling masuk akal. Berbekal dengan kemampuan stalking saya di Google yang di atas rata-rata, saya menemukan CD second yang harganya masih bisa dinegosiasikan dengan isi Kantong.

Paket kiriman pun tiba, benda bundar berkilau itu harus dikeluarkan dari kotaknya pelan-pelan. Goresan kecil saja bisa membuat lagu sulit terbaca senada dengan arahan Menjemen.

Namun, masih ada satu masalah.. Saya belum tahu akan memutarnya dengan apa. DVD External di rumah mungkin sudah masuk kategori barang yang kalau dicari harus bertanya kepada dukun klenik. Hilang tak berbekas seperti semangat saya untuk menghadapi kerasnya kehidupan di Jakarta.

Tapi tidak apa-apa.

Untuk beberapa hal, memiliki dulu ternyata lebih penting daripada segera menikmati. CD itu sekarang sudah ada di tangan saya. Untuk sementara, mengetahui bahwa lagu-lagu itu tidak lagi hilang entah di mana, rasanya sudah cukup.