Dijilat FitEar TG334 (2021)
Belum kering air mata gara-gara EXT, sudah ada lagi yang harus dicatat. Ya mau gimana, namanya juga catatan harian, dan ini juga termasuk harian saya, harian yang mahal.
Ini adalah salah satu IEM impian saya sejak dulu. kalau di earbud ada Yuin PK1, di DAC ada Chord Mojo 2. Nah di IEM, ini ada FitEar To Go! 334. Yang sekarang ini beda, Ini FitEar TG334, yang warna biru. Yang keluaran 2021, bukan To Go! 334 yang hitam itu. Saya sempat bingung juga, soalnya yang lama orang-orang nyingkatnya TG334 juga. Jadi kalau cari review di internet, harus teliti dulu ini yang mana, jangan sampai baca review barang lain terus manggut-manggut sendiri ternyata beda barang yang direview
Disclaimer, masih sama seperti sebelumnya. Ini review amatir, amatir banget. Telinga saya masih telinga yang gagal bedain FLAC sama MP3 320kbps. Saya masih Harjuna, music enjoyer, playlist masih cinta bertepuk sebelah tangan, slow rock lawas, OST game, dan jejepangan. Tidak ada yang berubah, kecuali saldo yang makin menipis
TG334 dipakai dengan:
- Chord Mojo 2
- Kabel 007b dengan Jack Pentaconn
- Eartips bawaan, AZLA SednaEarfit SE1000 (iya, bawaan. Ceritanya panjang, Saya ceritakan di bawah)
Comfort: Lumayan enak, tapi shellnya besar
FitEar lahir dari Suyama, yang dulu berkutat di alat bantu dengar dan pekerjaan dental di Jepang. Jadi wajar kalau doi lebih paham bentuk lubang kuping orang, wong kerjaannya dari dulu ngurusin itu. Ini mirip dengan IEM cinta pertama saya, yaitu Phonak PFE, mereka juga aslinya adalah pembuat alat bantu dengar.
Shellnya, Dari foto-foto, kelihatannya lebih besar dari To Go! 334, tapi enteng, dan bentuknya seperti custom. Masuk ke kuping tinggal masuk, tidak perlu diputer-puter seperti EXT yang tiap pasang rasanya seperti lagi masang anal plug di lubang telinga sendiri.
Yang bikin drama justru eartips-nya. Karena trauma sama eartips bawaan Vision Ears, saya langsung skip eartips bawaan TG334. Pokoknya bawaan pasti jelek, gitu pikir saya. Lalu satu laci saya coba semua: SpinFit CP Neo, AZLA Mithryl, Softears UT, Eletech Baroque Stage, JVC Spiral Dot++, Final E, Ortofon. Lama saya nyangkut di Ortofon, yang murah itu, dan sempat sombong karena merasa nemu harta karun. “Ternyata Eartips mahal gak selalu enak”, batin saya waktu itu.
Terus iseng saya coba SE1000 bawaannya. Anjay, kok enak. Lebih enak dari semuanya. Beneran, ini enak. Bahkan lebih enak dibanding dengan eartips lain yang mungkin seharga uang makan sebulan saya.
Hipotesa saya, mungkin karena nozzle TG334 itu oval, bukan bulat, dan SE1000 memang dibikin buat nozzle FitEar. Jadi selama ini saya muter-muter nyari, padahal jawabannya ada di kotak dari hari pertama. Bodoh memang, tapi ya sudah, yang penting sekarang enak. Catatan kecil, masang SE1000 ke nozzle oval itu agak susah. Harus didorong agak kuat. Lama-lama biasa.
Suara: Vokalnya maniezzz dan mepet, seperti dibisikin di telinga
Yang paling kerasa dari TG334 itu vokalnya. Dekat, dekat banget. seperti penyanyinya menyanyi di depan muka, tapi sopan, tidak muncrat. Lagu galau jadi tambah galau. Lagu jejepangan jadi enak sekali, mungkin karena IEM ini memang lahir dan dipakai di sana. Saya sebenarnya bingung mengungkapkannya, cuman kalau di saya rasanya tebel dan sweet, bisa bikin saya senyum-senyum. Rasanya sama seperti dulu saat pertama dengar Yuin PK1 dengan Chord Mojo 2
Bass-nya tidak semendat-mendut seperti EXT. Ada, kick drum kedengeran, bass gitar bisa diikuti, tapi dia tidak ngotot pengen jadi pemeran utama. Buat 4 BA, saya tidak merasa kurang karena memang fokusnya bukan di sini
Treble-nya ini yang saya syukuri. Ada kilaunya, ada udaranya, tapi tidak ces-ces sampai kuping cenat-cenut. Buat orang yang gampang capek kena treble seperti saya, ini penting sekali. Bisa dipakai lama tanpa harus istirahat buat menenangkan kuping. Tapi balik lagi, untuk kualitas treble memang EXT masih jadi juaranya
Teknikal: Oke lah
Soundstage. Panggungnya tidak luas. Kalau EXT itu konser di lapangan, TG334 itu dengerin band latihan di studio kecil. Musiknya lebih banyak terasa di dalam kepala, tidak jauh ke kiri-kanan. Tapi anehnya tidak sumpek. Ada ruang di antara suara, jadi tidak terasa semua orang main di satu kardus. Toko di Jepang juga bilang panggung versi biru ini lebih lega dari To Go! 334 yang hitam. Saya tidak pernah dengar yang hitam, jadi anggap saja ini “kecil tapi sudah lebih lega dari pendahulunya”.
Imaging. Posisi suara gampang ditebak. Vokal di tengah, di depan muka. Gitar di kiri, ya di kiri. Tidak ada yang tiba-tiba nyasar ke tempat lain. Mungkin karena memang dari awal dibuat buat monitor, jadi posisinya harus jujur.
Layering. Ini yang bikin saya kaget. Di lagu yang ramai, instrumennya tidak numpuk jadi satu adonan. Di slow rock lawas dan OST game yang orkestranya ramai, bagian-bagiannya masih gampang diikuti. Vokal tetap di depan, musik di belakang, tidak saling sikut.
Kesimpulan bagian ini, TG334 bukan juara di salah satu poin. Panggungnya kalah dari EXT, detailnya juga mungkin kalah dari IEM yang lebih mahal. Tapi semuanya rapi dan tidak ada yang bolong. Buatku ini memang IEM buat rileks, bukan buat ngejudge di lagu ini kurang apa.
Fatigue: Ini yang sebenarnya saya cari
Jujur, alasan utama saya punya TG334 bukan karena suaranya paling wah. Saya cuma capek dibikin capek.
Telinga saya ini aneh. Treble yang ces-ces nusuk bikin cepat lelah. Hifiman RE800 begitu, JH5 Pro juga. Lalu Go Live yang terakhir, yang fun dan enak itu, ternyata bikin capek juga. Padahal IEM Go Live! sebenarnya enak, tapi akhirnya menganggur, tidak bisa dipakai buat day to day
TG334 tidak begitu, Semuanya ada, tapi nggak ada yang ngotot. Treble nggak nusuk, bass nggak mendat-mendut banget, vokal tebel dan manieeezz
Hasilnya, saya bisa pakai lama dan yang bikin berhenti justru kerjaan atau baterai, bukan kuping. Satu lagi, karena tetap enak di volume kecil, saya jadi tidak tergoda untuk menaikkan volume. Kuping capeknya lebih jarang, dan mungkin umur kuping saya juga jadi lebih panjang. Amin.
Tapi ingat, ini semua baru berlaku setelah pakai eartips yang benar. Waktu masih gonta-ganti tips dan seal-nya belum pas, saya sempat merasa biasa saja. Jadi kalau TG334 kamu terasa melelahkan, coba cek tips-nya dulu sebelum menyalahkan IEM-nya.
Jadi gimana? Kesimpulan?
Jelas Enak. Tidak bikin capek, tapi mahal. Belum sama kabel dan eartipsnya wakakaka
Dalam hobi scam ini, dompet tetap berduka. Tapi untuk hal ini, apa yang harus disesalkan?