Hai Kak, Butuh Spark?

Beberapa hari lalu saya melihat sebuah unggahan di Threads.

Seseorang menulis pendek: “Kehilangan spark.” Akun busi kemudian membalas, kurang lebih, “Hai kak, kami jual spark plug. Barangkali butuh spark.”

busi dan spark

Saya tertawa ngakak sendiri. Bagi saya, Respons admin busi ini sebenarnya sangat tepat sasaran. Orang bilang kehilangan api hidup, yang datang menawarkan malah akun busi. Kalau hidup memang bisa dipulihkan pakai barang jadi, mestinya urusan manusia tidak akan serumit itu. Tinggal beli di marketplace, pilih pengiriman instan, lalu pasang, selesai sudah semua isu.

Masalahnya, setelah tertawa, saya malah melihat pantulan diri sendiri lewat layar hape yang saya set ke dark mode. Ada wajah seorang pria yang sudah tidak punya spark sama sekali. Gelap, muram, dan temaram. Kalau pakai bahasa admin busi, mungkin Seperti busi yang kemasukan oli. Mau dislah berkali-kali juga paling cuma batuk-batuk sebentar, lalu mati lagi.

Entah sejak kapan saya jadi begini. Dulu saya termasuk orang yang gampang bersemangat. Seseorang yang ambisius, banyak ingin tahunya, penasaran, dan selalu merasa ada saja yang bisa dioprek. Saya bahkan pernah menunda beli rumah karena takut terlalu banyak waktu habis di jalan. Takut ketika pulang kerja sudah malam, lalu habis tenaga sehingga hobi mengoprek saya akan terganggu. Bagi saya, itu masalah. Kerjaan di bidang security tidak memberi banyak kesempatan untuk ketinggalan. Telat update sedikit saja, dunia sudah menemukan lima exploit baru untuk membuat hidup kita repot.

Waktu itu logikanya terdengar sehat. Hidup tidak boleh seluruhnya diserahkan kepada perjalanan pergi-pulang yang memakan waktu hampir tiga jam, cicilan, dan rebahan sambil menunggu hari kerja berikutnya. Saya ingin masih punya waktu untuk membaca manga, ngoprek, mendengarkan lagu, atau melakukan hal tidak berguna yang entah bagaimana justru membuat hidup terasa berguna.

Lalu hidup berjalan seperti biasa. Dan seperti biasa pula, ia meminta kompromi. Mau tetap tinggal dekat dengan mengontrak, tetapi kasihan keluarga yang mungkin lebih nyaman kalau rumahnya agak jauh dan lebih lega. Mau tinggal jauh, keluarga memang lebih nyaman, tetapi waktu akan habis di jalan. Sebenarnya Tidak ada pilihan yang benar-benar buruk. Ini tentang saya. Tentang bagaimana saya mengambil keputusan dan mencari jalan terbaik. Kalau bisa beli rumah di Menteng, mungkin perkara ini tidak akan panjang. Tapi kalau uangnya baru cukup untuk memilih rumah yang layak di pinggiran atau tetep ngontrak yang lebih dekat tetapi komprominya lebih banyak, esensinya jadi lain. Ternyata yang ditanya “hidup” bukan saya mau apa, tapi saya rela kehilangan apa.

Ya akhirnya saya mengambil opsi tinggal jauh, karena bagaimanapun keluarga No 1. Seorang pria bekerja memang untuk keluarga, bukan untuk dirinya sendiri. Awalnya saya masih berusaha melawan. Saya mencoba membaca novel agar isi kepala saya tidak berkarat. Mencoba lari pagi hingga bisa menaklukkan HM walau tanpa event. Main CTR, Main Uno ataupun Sekata yang sebenarnya tidak berguna tapi entah kenapa membuat saya hepi. Pokoknya melakukan banyak hal, kadang tanpa tujuan yang jelas, agar api kecil itu tidak benar-benar padam. Rasanya, selama masih punya kegiatan yang membuat bahagia, saya belum sepenuhnya kalah.

Tapi setahun terakhir ini rasanya lain. Saya Seperti masuk era kegelapan. Gelapnya bukan yang dramatis sehingga membuat orang ingin menulis kutipan hitam-putih di Friendster atau Instagram. Lebih mirip lampu kamar yang redup karena voltasenya PLN-nya ngedrop. Masih menyala, tapi tidak cukup terang buat membaca. Saya nggak tahu apakah “kegelapan” ini karena tiga jam di jalan, umur, atau kerjaan. Mungkin semuanya.

Baca manga Romcom, saja rasanya tidak berselera, sudah tidak ada rasa deg-degan atau perang waifu tentang mana heroine yang bakalan dipilih orang sang protagonis. Mendengarkan lagu paling hanya satu jam, itu pun sering hanya buat membangunkankan diri agar tidak depresi aja. Ngoprek? Ini malah lebih menyedihkan lagi, hal yang dulu jadi tempat pulang malah berubah jadi daftar pekerjaan tambahan yang terus menumpuk. Malah menjadi beban dan kewajiban.

Capeknya sampai ada masa ketika saya berpikir untuk ke psikolog. Saya cuma merasa isi kepala sudah terlalu berantakan, sementara saya sendiri sudah tidak punya tenaga untuk merapikannya.

Mungkin itu sebabnya balasan admin busi tadi kena banget. Lucu karena absurd, nyesek karena saya memang lagi butuh. Tapi setelah dipikir-pikir, saya juga jadi ingin tanya serius, kalau memang ada yang jual, pasangnya di mana, ya?

Apa dicolok di pantat?