Boleh Minta Apa Saja

Dulu, waktu umur saya masih belia, saya bukan anak kalahan. Saya sering menang dalam game kehidupan yang tentu skalanya tidak besar-besar amat. Bukan tentang menang lomba olimpiade sampai dapat beasiswa ke luar negeri. Nilai SD saya cukup bagus. Cukup untuk bikin orang tua berharap anaknya bisa masuk SMP unggulan sekecamatan.

Orang tua menjanjikan hadiah. Kalau saya bisa masuk SMP itu, saya boleh minta apa saja. Kalimat “apa saja” ini berbahaya bila diberikan kepada anak kecil. Anak kecil tidak punya rem. Ia bisa minta sepeda motor, PS2, atau komputer dengan prosesor Intel Pentium Prescott + Geforce FX 5900. Anehnya, permintaan saya waktu itu sederhana, nugget dan sikat gigi elektrik.

Nugget yang saya maksud adalah nugget yang iklannya dibawakan penyanyi cilik dan penyanyi kawakan. “I feel good, teloletloletlolet”. Lagunya melekat, saya tahu ini cuma lagu plesetan tapi harusnya sang pembuat iklannya bangga bahwa masih ada bapak-bapak setelah lebih dari 2 dekade masih inget jingle lagunya. Tapi sudahlah ini malah saya jadi yapping. Yang jelas, saya percaya nugget itu enak. Sangat enak. Enaknya pasti berbeda dengan lauk yang biasa muncul di meja makan kami. Itu lambang kemakmuran. Orang yang pernah makan nugget pasti sarapan roti tawar, minum jus jeruk, punya buah di meja makan, dan makan bersama keluarga sambil ngobrol santai. “Mau tambah selai stroberi atau blueberry?”

ya, di Rumah kami tidak seperti itu, tidak ideal seperti di sinetron-sinetron TV. Kami memang makan bersama kalau kebetulan semua orang sedang di rumah dan makanan belum habis duluan. Buah ada sesekali, tapi bukan jenis buah yang ditaruh cantik di mangkuk kaca. Jus jeruk juga ada, bentuknya dalam sachet merk ABC. Kalau mau dingin, tinggal ditambah es. Kalau esnya habis, ya anggap saja itu jus jeruk versi hangat.

Sikat gigi elektrik lain lagi ceritanya. Saya ingat waktu dulu masih kecil, menyikat gigi adalah kegiatan membosankan yang membuang waktu. Sikat Gigi baru masuk mulut sebentar sudah batuk-batuk bengek dan mau muntah. Bayangkan, dengan sikat gigi elektrik, saya hanya tinggal mangap membuka mulut, memasukkan tanpa perlu menggoyang-goyangkan sikat seperti odong-odong. Di mata saya, sikat gigi elektrik bukan alat untuk membersihkan gigi. tapi sebuah penemuan besar yang akan mengubah peradaban. TEKNOLOGIA

Singkat cerita, saya diterima. Masuk sepuluh besar pula. Rasanya seperti baru lolos seleksi jadi menteri. Tanpa fafifu, tanpa syukuran, Ibu mengajak saya ke Purnama, swalayan mini dekat rumah. Nugget pun dibeli.

Saya menunggu momen itu dengan penuh hormat. Barang yang selama ini hanya hidup di televisi akhirnya masuk ke rumah. Rasanya seperti kedatangan artis Ibu Kota. Nugget itu digoreng. Wanginya keluar dari dapur. Saya yakin bahwa rasanya akan enak seperti masakan resto bintang lima. Saya duduk menunggu dengan perasaan orang yang sebentar lagi memperoleh jawaban atas seluruh persoalan hidup.

Lalu saya mencoba gigitan pertama. Saya kunyah pelan-pelan, meresapi secara paripurna.. Ternyata tidak enak. Bukan tidak enak karena dimasak salah. Bukan. Memang saya tidak suka, lidah saya yang menyedihkan, Ndeso kalau kata orang-orang. Bagi anak kecil yang konservatif seperti saya, Teksturnya aneh, lebih mirip tempe yang diiris tebal yang ngaku-ngaku ayam. Saya makan beberapa potong karena merasa tidak enak kepada orang tua. Setelah itu saya kapok. Nugget iklan penyanyi cilik ternyata tidak semagis apa yang ditayangkan di televisi.

Masih ada satu lagi, kalau nugget mengecewakan, harusnya hadiah yang kedua akan membahagiakan. Saya yakin Tuhan tidak akan tega membuat seorang anak kecewa dua kali berturut-turut hanya gara-gara hadiah masuk SMP. Lalu tibalah hari membeli sikat gigi elektrik. Incaran saya, “Pepsodent Elektra”.

Kami melihat barangnya di toko. Saya masih ingat cara saya memandang rak itu. Ada sikat gigi dengan kepala yang bisa berputar sendiri. Saya membayangkan gigi saya akan bersih seperti gigi bintang iklan pasta gigi. Hidup saya juga mungkin ikut bersih. Masa depan tampak lebih menjanjikan.

Kemudian saya melihat harganya. “Walach, walach, walach”, Saya melongo sebentar. Lalu sadar diri.

Tidak ada yang menyuruh saya membatalkan keinganan. Orang tua saya juga tidak mengeluarkan kalimat sakti, “Nak, kita ini orang susah.” Saya hanya melihat angka itu, kemudian seperti mendapat wahyu ekonomi dari langit.

“Yang biasa saja, deh.”

Akhirnya saya pulang membawa sikat gigi Pepsodent White System dengan harga 12ribuan.

Saya memang sudah belajar sadar diri sejak kecil. Kalau ingin makan ayam krispi, misalnya, saya tidak pernah meminta. Saya takut orang tua tidak punya uang. Belakangan, ketika sudah besar, saya tahu ketakutan itu bukan sekadar perasaan anak kecil yang terlalu peka. Orang tua saya memang sedang dihimpit banyak hal dari dua arah. Sandwich, kata orang sekarang.


Nugget? Sekarang malah jadi sering saya makan. Anak saya doyan, dan menu makan siang bapaknya ya ikut menu anaknya. Tetap bukan makanan favorit saya. Pecel lele is my life.

Sikat gigi elektrik lain lagi. Saya tidak tahu sejak kapan sikat gigi elektrik kembali masuk ke hidup saya. Mungkin setelah saya punya uang sendiri atau setelah saya mulai malas untuk menyikat gigi secara manual. Saya mulai mencoba banyak merek. Formula. Philips. Oral-B. Pepsodent. Xiaomi. Saya memilih sikat gigi elektrik dengan keseriusan yang dulu mestinya dipakai untuk memilih jurusan kuliah.

Ada yang bagus, tapi mahal. Ada yang mahal, tapi membuat saya bertanya apakah motor kecil di dalam gagangnya dibayar per menit. Ada juga yang murah, tetapi rasanya seperti menyikat gigi memakai bor mini.

Terakhir saya membeli Xiaomi. menurut hitungan saya, Xiaomi paling masuk akal. Harganya tidak membuat saya otomatis teringat pada rak toko masa kecil itu. Getarannya cukup. Baterainya cukup. Bersihnya juga cukup. Orang dewasa kalahan seperti saya ternyata suka kata “cukup” karena sudah capek mengejar kata “sempurna”. ini kenapa malah jadi review produk ya? Ya apalah, saya cuma menulis apa yang ada di kepala saya.

Kadang, saat melihat sikat gigi elektrik di kamar mandi, saya masih ingat anak kecil yang memilih sikat biasa karena tahu harganya terlalu tinggi. Saya tidak kasihan pada anak itu. Dia lumayan tangguh. Dia bahkan sempat masuk masuk 10 besar SMP favorit di kecamatannya.

Mungkin begitulah cara berdamai dengan masa lalu yang paling dewasa yang bisa saya lakukan. Bukan membeli yang paling mahal. Cukup bisa memilih tanpa lebih dulu bergumam dalam hati, “Walach, walach, walach”