Envy, New Zealand 3315

Pagi ini saya dibekali istri saya Ayam Krispi yang katanya dulu pernah kena boikot, tapi ya sudahlah, saya bukan orang yang teguh dan berprinsip. Apa yang dikasih ke saya, akan saya makan daripada Mubazir. Saya juga mengambil buah yang katanya merupakan buah yang menyebabkan kita dikeluarkan dari surga, buah apel. Buah ini saya lihat tergeletak di meja, saya bawa saja sebagai kudapan nanti setelah makan siang. Merahnya cantik, mengilap cling-cling, kelihatan sehat sekali bentukannya, sangat berbeda dengan saya yang seperti selalu kumuh dan kurang gizi. Buah yang kalau ditaruh di mangkuk kayu bersama jeruk, langsung membuat dapur terlihat seperti rumah orang punya di sinetron-sinetron zaman dulu.

Saya coba makan satu gigitan.

Kres, kres. Rasanya enak, renyah, dan agak masam. Terasa seperti apel mahal.

Manis juga, rasanya seperti makan sambil melihat cermin. Kata orang tua saya dulu, saya ini emang anak yang paling manis.

Lalu baru sadar tulisan kecil di stikernya, “Envy, New Zealand 3315”. Apel Envy Pantes…

Dari dulu saya memang gampang sekali merasa iri dan dengki. Lihat orang santai, iri. Lihat orang yang karirnya moncer dan dapet nilai bagus, dengki juga. Lihat orang bahagia, ya pasti jelas iri dengki juga. Lihat orang kerja keras, enggak iri sih kalau ini. Walaupun kalau saya sendiri yang diajak hepi-hepi, main tenis misalnya, mungkin saya akan pura-pura ada urusan keluarga atau sakit dan berkata “skip dulu gaes”. Saya mengamalkan iklan A Mild di TV tahun 2000-an itu terlalu serius,

“Susah lihat orang senang, senang lihat orang susah.”

Jangan-jangan manusia memang benar adalah apa yang dia makan. Orang makan sayur jadi sehat. Orang makan protein jadi berotot. Lalu saya? Saya yang makan apel Envy ini, lalu tumbuh jadi orang yang hidupnya cukup-cukup saja tetapi matanya rajin melihat dan membandingkan hidup orang lain.

Urip itu wang sinawang. Mungkin.

Definisi Cah kalahan? Bisa jadi

Tapi cah kalahan yang makan apel mahal. Ada kelasnya sedikit, hehe