PNS Kecamatan dan Uang 10jt dollar

Ada meme yang sering lewat di X atau Reddit. Kamu disuruh milih, kapsul biru untuk kembali ke masa lalu, atau kapsul merah buat dapat sepuluh juta dolar. Pil Merah Biru Orang mungkin mengira saya bakal pilih biru. Dari luar, saya memang kelihatan seperti orang yang penuh penyesalan. Tapi maaf, tebakan itu salah. Saya akan pilih merah.

Orang bilang uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Menurut saya itu cuma coping mechanism, kalau orang Jawa bilang, “nggo ngayem-ayemi ati”. Uang jelas bisa membeli kebahagiaan. Uang bisa beli rumah yang besar, pakai solar panel dan baterai besar, internetnya punya tiga uplink, ada kebunnya, ada kolam lele, ada ayam petelurnya. Hal kayak gini mungkin bisa dicicil dari sekarang, tapi ya gitu deh, gimana nyicil rumah yang besar kalau rumah kecil aja masih ngap-ngapan bayar cicilannya. Uang juga bikin bisa memberi ke orang sekitar tanpa ada rasa nggak ikhlas. Ini pun sebenarnya bisa dilakukan kapan saja, cuma jujur, kadang masih ada yang ngganjel di hati. Saya ini agak pelit, apalagi sama diri sendiri. Kalaupun semua itu belum bikin bahagia, paling tidak hidup jadi nggak terlalu ribet.

Kapsul biru memang kedengarannya keren. Kita semua punya satu-dua hal yang ingin diperbaiki. Salah jurusan, salah ngomong, salah milih crush, salah beli barang, salah percaya orang. Atau yang paling klasik, penyesalan karena uang kuliah tidak dipakai all in Bitcoin waktu harganya masih receh. Enak sekali membayangkan kembali ke masa lalu dengan kepala yang sekarang. Tinggal datang, menghindari semua kebodohan, lalu hidup lurus seperti video tutorial.

Masalahnya, masa lalu bukan dokumen Word yang bisa di-undo.

Kalau saya kembali lalu membetulkan satu hal, bisa jadi hal lain ikut hilang. Saya mungkin tidak ketemu orang-orang yang sekarang saya kenal, atau malah kehilangan orang yang saya sayangi. Hidup saya mungkin kelihatan lebih rapi, tapi isinya orang lain semua. Itu bukan perbaikan. Itu seperti pindahan ke rumah orang. Membayangkannya saja saya sudah sedih sekali

Jadi kalau dipaksa pilih biru, saya mau nego syaratnya dulu. Saya tidak mau kembali untuk memperbaiki apa-apa.

Saya cuma mau kembali untuk nonton. Tidak masuk lagi ke tubuh saya yang dulu, lalu sibuk potong jalan dan menghindari kegagalan. Saya mau duduk di sana seperti nonton TV, tapi ikut merasakan semuanya. Deg-degan waktu cinta pertama. Patah hati pertama, yang dulu rasanya seperti tidak ada lagu yang cukup sedih untuk menemani. Pertama dapat kerja, pertama punya uang sendiri, pertama sadar kalau dunia orang dewasa isinya banyak rapat dan sedikit makan siang gratis.

Termasuk kebodohan-kebodohan itu. Soalnya kalau semua yang menyebalkan dihapus, yang tersisa cuma montase hidup bagus. Padahal hidup tidak begitu. Ada senang, susah, malu, bangga, keputusan aneh, dan hari-hari biasa yang dulu terasa membosankan, tapi sekarang malah pengin dilihat lagi.

Walaupun jujur, saya tidak yakin kuat nonton diri saya yang dulu lama-lama. Anak itu pasti bikin banyak keputusan tolol dengan keyakinan penuh. Baru kena patah hati pertama saja sudah bertingkah seperti dunia kiamat. Saya pengin ketawa lihatnya, tapi mungkin juga kasihan.

Balik ke masa sekarang. Lalu, apakah saya bahagia sekarang?

Ya, tentu saja. Walaupun masih sering iri dan dengki. Kadang lihat hidup orang lain masih pengin komentar, “Kok enak amat hidupnya?” Tapi saya nggak mau kehilangan semua yang saya punya sekarang cuma demi membetulkan satu-dua bagian yang dulu terasa salah.

Mungkin bahagia versi saya memang begitu. Hidupnya nggak sempurna, penyesalannya juga masih ada, tapi kalau dikasih tombol kembali, saya masih mikir dua kali buat menekannya.

Jadi ya sudah, kapsul merah saja.

Sepuluh juta dolar itu saya pakai buat pulang ke Jogja, bangun rumah yang ada lelenya tadi, jadi PNS kecamatan, lalu hidup tenang sambil mengeluh soal rapat.

Wakakaka.