Sepatah Review Vision Ears Go Live

Vision Ears Go Live dengan AZLA Crystal 2 dan BTR17

Haram rasanya kalau salah satu kebodohan paling membahagiakan dalam perjalanan audio ini tidak dicatat. Anggap saja tulisan ini prasasti kecil, untuk mengingat bahwa kadang mencari bahagia memang butuh keputusan finansial yang kurang sehat.

Oke, saya mulai.. Saya beli Vision Ears Go Live buat dibawa ke kantor. Objektifnya tentu sangat sederhana, musik enak buat didengerkan, bass mendat mendut, kuping nyaman, dan bisa dipakai kerja lama tanpa rasanya seperti sedang dihukum oleh penyesalan

Soal nyaman ini bukan tambahan kosmetik. Sebelumnya saya pakai Phonak PFE dan JH Audio JH5 Pro. Jadi standar kenyamanan telinga sudah sangat membekas dan terbentuk. IEM harus masuk akal dipakai berjam-jam, gampang dicabut kalau ada orang ngajak ngomong, lalu dimasukan lagi tanpa perlu melakukan foreplay.

Disclaimer wajib dulu, biar pembaca tidak ada yang salah alamat, review saya ini review amatir. saya bukan audiophile yang mencari-cari detil dan kesalahan dalam sebuah lagu. Saya Harjuna, si paling music enjoyer. Isi playlist juga tidak punya wewenang untuk men-judge IEM, kebanyakan isinya tentang lagu yang bertema cintanya bertepuk sebelah tangan, slow rock lawas, OST game, dan jejepangan. Kalau selera musikmu isinya Yao Si ting & Susan wong pastinya review ini mungkin cuma seperti Kolom kecil “Sungguh-sungguh Terjadi” di Koran Kedaulatan Rakyat.

Go Live ini dipakai dengan:

Comfort: seperti Anal Inspection

Pertama kali pakai, rasanya seperti dokter bedah sedang meriksa pantat orang ambeyen. Masuknya sangat dalam. Ada fase ketika saya bertanya pada diri sendiri, “Apakah seperti ini perasaan kuping dirodok ya?”

Bawaan eartipsnya, yaitu spinfit CP145, fit-nya belum langsung cocok, masih sakit banget kalau digunakan untuk listening lama. Akan tetapi setelah ganti ke AZLA Crystal 2, semua masalah tentang fitting langsung selesai. Langsung masuk, Maksleb kalau kata orang jawa. Saya bisa langsung dapat posisi, dan tidak perlu diputer-puter sampai lupa lagu apa yang tadi diputar.

Bentuknya masih besar dan dari luar kelihatan bukan IEM yang paling ramah telinga. Tapi setelah ketemu eartips yang cocok, Go Live bisa hilang dari kesadaran. Menurut saya, Itulah pujian tertinggi untuk IEM yang digunakan day to day di kantor untuk easy listening. Tidak ada drama telinga protes setelah beberapa jam.

Satu komplain kecil dari saya, walaupun housing-nya dari besi dan terasa kokoh, tapi pinggiran catnya gampang ngelupas karena IEM kiri dan kanan saling bergesekan di dalam case.

Suara: warm, full, mendat-mendut, dan enak buat lama-lama

Kesan pertama Go Live: suaranya warm dan terasa full. Bass-nya mendat-mendut, vokal tidak tipis tapi juga tidak ditarik terlalu maju kedepan, sementara instrumen terasa punya body. Suaranya tetap berisi tapi tidak mendem atau tipikal bikin ngantuk.

Bagian low memang lebih terasa daripada bagian high. Go Live lebih memilih memberi bobot pada bass daripada mengejar treble tajam yang bikin kuping cepat capek. Buat lagu slow rock lawas, OST game, atau lagu Jepang yang aransemennya ramai, karakter begini bikin musik terasa lebih full dan nyaman.

Di Low nya, bass adalah bagian yang paling dulu terasa. Sub-bass punya bobot, kick drum ada bodynya, dug dug, dan bass gitar tidak cuma lewat sebagai figuran di belakang vokal. Karena dulu saya pernah main bass gitar, bagian ini sedikit lebih gampang bikin perhatian saya nyangkut. Di slow rock, bass membuat lagu terasa full dan mewah. Buat lagu jejepangan yang bass-nya kadang mau mencuri panggung, Go Live masih bisa mengerem, jadi bass-nya tidak mendadak memenuhi seluruh lagu.

Di Midnya, bagi saya vokal terasa tetap aman di tengah. Ini penting, karena sebagian besar playlist saya berisi orang-orang yang bernyanyi menggunakan hati yang bertemakan tentang tidak dipilih, ditinggal, atau bertepuk sebelah tangan. Vokal laki-laki punya bobot dan warm. Vokal perempuan cukup maju, jelas, dan emosinya keluar tanpa jadi tajam atau biasanya kita sebut harsh. Bass tidak menutup suara penyanyi, gitar dan piano juga tidak berubah jadi bubur yang diaduk saat lagu mulai ramai.

Bagian Highnya masih punya rasa cring-cring. Cymbal, petikan gitar, efek kecil lagu Jepang, sampai ambience OST masih terdengar. Go live ini Detailnya mantab dan menurut saya enak karena keluarnya smooth. Go Live bukan IEM yang menyorot semua detail tinggi seperti boss micro management. Untuk sobat yang kuping yang gampang lelah, ini sangat wenak. Terutama kalau sudah pernah ketemu IEM yang treble-nya seperti ingin membuktikan dirinya lebih pintar daripada pendengarnya.

Clarity Go Live ini enak buat dipakai dengar lama. Vokal tetap terdengar jelas, detail kecil masih muncul, tanpa perlu menaikkan volume sampai tetangga kantor ikut menilai pilihan hidup kita salah atau tidak.

Imaging dan layering-nya juga jadi salah satu bagian yang paling terasa. Saat lagu ramai, masih kebayang posisi tiap instrumen. Vokal tetap di tengah, gitar atau efek kecil bisa datang dari samping, sementara drum dan bass punya ruang sendiri. Instrumennya tidak ditumpuk menjadi satu. Buat OST game dan lagu Jepang yang aransemennya kadang ramai, ini bikin enak karena masih bisa mengikuti isi lagunya tanpa merasa semuanya berebut di tengah.

Soundstage-nya menurut saya pas. Tidak sempit, tapi juga tidak lebar sampai merasa duduk di tengah stadion. Ada rasa depan-belakang, tetapi tidak dibuat berlebihan. Rasanya tiap instrumen dikasih tempat sendiri, bukan dilempar ke satu ruangan lalu disuruh kumpul kebo.

Hasil akhirnya: Go Live warm, tapi bukan warm yang butek. Bass punya bobot, mid dan vokal tetap enak, treble cukup open tanpa harsh, dan dipakai lama tidak bikin fatigue. Ini karakter yang cocok buat Easy listenin. Musik tetap enak, kuping tidak capek, dan kepala masih bisa dipakai membalas chat kantor yang tidak ada habisnya.

oh iya, yang terakhir dan terpenting bagi saya, “Apakah membuat Fatigue?”

Sejauh ini, belum ada fatigue.

Ini salah satu alasan Go Live cocok buat kantor. Dipakai lama aman dan tidak bikin kuping capek karena treble terlalu galak. Tidak bikin kepala pusing karena bass kelewat beringas. Volume normal sampai agak naik masih enak dan trengginas.

BTR17 dan Go Blu Air sama-sama cukup buat menghidupkan Go Live. BTR17 terasa lebih punya tenaga dan sedikit lebih mantap di low nya. Go Blu Air lebih ringan buat dibawa dan tetap bikin musik enak.

Kesimpulan

Vision Ears Go Live itu wenaaaaaak.

Sangat nyaman setelah ketemu eartips yang tepat. Suaranya warm, bass-nya mendat-mendut, vokalnya enak, treble-nya aman, detailnya cukup, dan dipakai lama tidak bikin kuping menuntut cuti besar.

Go Live ini menurutku lebih ke IEM buat orang yang easy listening, lalu tiba-tiba kebawa kenangan gara-gara lagu slow rock tahun entah kapan. Buat cinta bertepuk sebelah tangan, Go Live tidak menyelesaikan masalahnya, namun setidaknya patah hatinya bakalan terdengar mahal. Saya ingat waktu pertama kali menggunakan IEM ini, rasanya sangat “Biasa” .Bahkan menurut saya, saat pertama memakainya, tidak ada bedanya dengan JH5 Pro saya atau RE800. Tapi mungkin justru itu enaknya. “Biasa” itulah yang bikin nyaman, lalu pelan-pelan bikin kangen dan susah lepas setelah seminggu pemakaian. Wakakaka.

Yang tidak enak cuma satu, harga. Buat kantong kering, Vision Ears Go Live tentu ide yang kurang sehat. Tapi kalau benda kecil ini bikin hari kerja lebih waras, bikin musik lebih nikmat, dan bikin diri sendiri senang, ya apa salahnya?