Wangi Jangan Wayu Nget-ngetan

Semalam hujan sepertinya. Saya tahu karena tidur saya nyenyak seperti bayi. Dalam Islam, hujan itu rezeki. Tapi buat sebagian orang, hujan kurang lebih seperti petaka. Buat yang rumahnya bocor, atau yang cari nafkah malam-malam, hujan malam itu musibah. Saya pun pernah mengalaminya.

Dulu saya pernah lembur sampai jam tiga pagi karena ada insiden. Jam sembilan sudah harus masuk kantor lagi, jadi saya memutuskan langsung pulang tanpa menunggu subuh. Waktu itu saya sudah tidak peduli dengan begal ataupun gerimis, saya pengen cepat-cepat ketemu kasur di rumah. Di tengah jalan, hujan angin turun, derasnya tidak seperti biasa. Jas hujan mahal saya sampai merembes. Sepatu Hoka GORE-TEX berubah jadi ciduk, justru karena anti-air. Air masuk dari atas, tapi tidak bisa keluar. Oiya, ini bukan flexing. Saya cuma mau bilang, barang mahal pun bakalan kalah sama hujan sederas ini. Beberapa kali saya harus berhenti karena jalanan sampai tidak kelihatan.

Mungkin waktu itu saya menangis, tapi tangisannya tidak kelihatan karena disapu hujan. Anjay.

Nah, kali ini saya anggap hujan memang rezeki. Sudah lama rasanya tidak hujan sederas ini. Beberapa minggu terakhir pompa air di rumah sudah berteriak seperti orang kena siksa neraka, “ooooooaaaakkkaak”. Udara pagi ini juga segar, jenis segar yang sudah lama tidak saya hirup.

Waktu mengantar anak sekolah, wangi hujan bercampur dengan bau-bau lain yang sudah lama tidak saya cium. Wangi jangan wayu nget-ngetan, sayur kemarin yang dipanaskan lagi. Wangi sabun cuci bercampur Molto. Lalu wangi minyak tawon, entah dari orang tua murid yang mana. Bau-bau begitu langsung membawa saya naik mesin waktu, balik ke masa sekolah dan kuliah dulu di kampung. Sedih dan bahagia jadi campur aduk. Sedih karena hidup rasanya gini-gini aja. Tapi tetap bersyukur, karena masih tercukupi.

Saat hidup lagi berantakan, hal kecil semacam ini bisa bikin bahagia. Mood naik, dopamin saya langsung tumpah-tumpah. Saya ingin mencium wangi itu lagi, tapi rasanya tidak elok bolak-balik sekolah anak–rumah cuma buat menghirup wangi yang sak kleraman begitu. Sempat terpikir mau submit cuti. Tapi alasan “ingin santai mencium bau hujan” tidak akan lolos, bahkan oleh akal saya sendiri yang sedang sebenarnya juga tidak sehat-sehat amat.

Jadi ya, jalan saja. Nikmati yang ada. Kerja, kerja, kerja, udah seperti jargon Presiden sebelum ini.

Lanjut.. Perjalanan ke kantor biasanya lewat hutan UI. Habis hujan begini, udaranya jelas juara, tidak ada lawan. Saya jalan pelan-pelan di situ sambil mendengarkan Hujan dari Utopia lewat intercom Cardo dengan speaker JBL, anjay. Dan bukan, itu bukan dari shuffle. Saya sengaja setel manual biar suasananya makin melankolis.

“Aku selalu bahagia saat hujan turun, kar’na aku dapat mengenangmu untukku sendiri, oh-oh-oh-oh”

Wuooohhh. Amaziiingggg. Sugooooiiiiiii!

Tapi begitu keluar dari UI dan lagunya selesai, semuanya kembali ke setelan pabrik. Macet di Lenteng Agung, lalu Tanjung Barat, disusul macet Pasar Minggu yang sebenarnya sudah tidak bisa diterima oleh akal sehat.

Ya begitulah hidup. Kalau ada yang menyenangkan, nikmati dulu. Karena setelahnya, kamu tetap akan dientot oleh kehidupan seperti biasa.